Tampilkan postingan dengan label Napak Tilas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Napak Tilas. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 28, 2009

Mesjid Azizi, Bukti Kejayaan Kesultanan Langkat


Berdiri kokoh di atas lahan seluas 18.000 meter persegi dengan sebuah arsitektur yang menakjubkan, membuat Mesjid Azizi cukup menjadi bukti sejarah akan kejayaan kesultanan Langkat pada masa ia didirikan. Mesjid kebanggaan masyarakat Langkat ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Langkat ke-7, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927), dan diresmikan pada 12 Rabiulawal 1320 Hijriah atau tepatnya 13 Juni 1902. ketukmeje

Pembangunan mesjid ini memakan biaya sekitar 200.000 ringgit dengan rentang waktu pengerjaan selama 18 bulan. Biaya yang tidak sedikit ini tentunya menjadi bukti akan kemakmuran Kesultanan Langkat yang memiliki perkebunan karet luas serta tambang minyak yang kaya raya pada masa itu. fikir


Kemegahan mesjid ini terlihat jelas dari bangunan utama mesjid yang memiliki kombinasi arsitektur antara Timur tengah, India dan Cina yang dipadukan dengan corak khas melayu. Di bagian dalam mesjid, terdapat ruangan bersegi sembilan dengan tiang-tiang yang terpancang kokoh, di bagian atas tampak jelas kubah-kubah mempesona yang menyempurnakan bentuk mesjid ini sementara pada bagian halaman mesjid terlihat menara indah yang menjulang tinggi. tepuktangantepuktangan



Nilai historis mesjid Azizi ini dilengkapi dengan adanya makam keluarga kesultanan pada bagian kanan halaman mesjid. Makam-makam tua ini menjadi saksi eksistensi kesultanan Langkat pada masanya. Yang lebih menandaskan bukti itu adalah keberadaan makam Tengku Amir Hamzah, seorang pujangga angkatan Pujangga Baru yang telah menelurkan beberapa karya legendarisnya seperti Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi. Pada makamnya juga terukir syair yang digubahnya. angel

Hal yang sedikit disayangkan adalah kurang terawatnya bangunan bersejarah ini. Cat mesjid yang sudah kelihatan memudar meminta perhatian semua pihak untuk mendandaninya khususnya para pejabat pemerintah daerah kabupaten Langkat. Aset daerah yang sangat berharga yang sekaligus menjadi tujuan wisata religi ini harus tetap lestari dan terus menjadi simbol kejayaan kesultanan Langkat. doa


Selanjutnya......

Sabtu, April 11, 2009

Grand Canal A la Venice Italy


Kanal yang membelah kota Brandan dulunya tampak indah dan bersih. Kanal yang dibangun pada jaman kolonial Belanda ini merupakan tempat kami bermain, berlari-lari sambil mencari ikan-ikan kecil ketika air surut. Waktu itu kita bisa melihat banyak ikan, udang, maupun kepiting kecil berenang ke sana-kemari karena air dalam parit kecil di bagian dalam kanal cukup dangkal dan jernih tanpa sampah dan lumpur. Biasanya tanpa sadar, kami berjalan dalam kanal cukup jauh mulai dari pangkal kanal di Jalan Jawa sampai ke Jalan Sudirman kota..!! angkatkeningpenat

Yah, kenangan tinggal kenangan... Kanal yang dulunya menjadi kebanggaan orang Brandan, kini menjelma menjadi salah satu tempat terjorok di Brandan! Parit kecil bagian dalam kanal tidak kelihatan lagi karena ditimbun lumpur bercampur sampah. Kolam renang terpanjang, tempat kami berenang waktu air pasang ini sudah berganti warna seperti kopi capuccino minum. Kanal ini menjadi tempat pembuangan sampah terpanjang di Brandan; dari pada jauh-jauh buang sampah lemparkan saja ke dalam kanal... Bereeess..!!! setan takboletakbole

Lebih parah lagi terlihat jelas di kanal bagian ujung arah ke laut. Karena kanal berada tepat di atas pasar, eehh... pajak kata orang Brandan, pastilah saluran ini menjadi tempat buang sampah terfavorit. Campakkan aja ke kanal... Bereess..!!! setan takboletakbole

Waaahh.. kalau begitu cara kita berpikir, main campak ke kanal yang penting bereess.. alamat kota kita bisa mendapat penghargaan menjadi kota terjorok di Langkat, mungkin naik peringkat lagi menjadi kota terdekil di Sumatera Utara dan akhirnya kota ter-gadel se Indonesia. Hadiah pun layak disematkan; kalau untuk yang paling bersih piala Adipura, untuk yang terjorok piala Adi apa ya..??? Mungkin Adi Adi Aja Loe... gelakgulinggelakguling



Selanjutnya......

Jumat, April 10, 2009

Pepatah Orang Brandan


Pepatah orang Brandan yang paling populer adalah: "Kalau sudah minum air sungai Pelawi, Pasti balik lagi ke Brandan" . gatai

Wuih, pepatah lama ini memang terbukti ampuh. Banyak orang merantau jauh keluar kota bertuah ini akhirnya kembali lagi walau hanya untuk satu atau dua hari saja. Kalau ada yang tak kembali lagi, mungkin lagi gak punya duit untuk pulkam alias pulang kampung atau sudah durhaka dengan kampung halamannya.penat

Bak pepatah orang tua dulu: "Setinggi-tinggi terbang Bangau, surutnya ke kubangan juga" kecuali burung Bangau itu tertembak sewaktu hendak pulang atau stress sehingga gak ingat untuk pulang..! gelakgulinggelakguling


Pepatah lain yang cukup sering didengungkan orang Brandan adalah "Apa lagi yang kau tunggu di Brandan ini, gak bisa Brandan ini dibuat tempat cari makan" Oowalaaah... Agus.. Agus.. Kalau orang luar aja yang datang dan bekerja di Brandan bisa sukses, kenapa orang Brandan sendiri yang notabene sebagai putra daerah gak bisa...!!!nangihnangihtakboletakbole

Mungkin kalau tinggal di kota kelahiran sendiri, irama hidup agak santai gak seperti kalau merantau ke negeri orang; kalau gak giat, ya gak mamam...! Mau minta sama siapa? Orang tua nun jauh disana. Jadi mau gak mau harus giat bekerja demi segenggam berlian...kenyitkenyitcium

Apapun namanya, Right or Wrong is My Country; sama seperti pepatah jadul "Dari pada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri" Tapi batunya batu permata lah pulak... Betul kan??? banyakckppinokio
Selanjutnya......

Rabu, Februari 11, 2009

Kalau tidak ada berada, tidak tempua bersarang rendah


Burung Tempua yang lebih di kenal dengan burung Manyar dalam bahasa jawa atau burung cak raya (loceus artigula), punya sarang yang indah sehingga orang yang melihat sudah tentu ingin memetiknya...senyumkenyitsenyumkenyit

Berawal dari cerita diatas, saya teringat kenangan di waktu kecil ketika berlari-lari di pematang sawah sambil berburu burung dengan senapan angin bersama teman-teman sekambar (sekampung-baru maksudnya...).

Wah, untaian sarang burung yang begitu indah tergantung nun jauh di atas pohon yang tak mungkin diraih. Memang, sarang burung ini berada jauh di pucuk-pucuk pohon sehingga hampir tak mungkin diambil.penatpenatpenat

Sebagian teman memanjat pohon untuk mengambil sarang burung itu, karena selain indah, kami juga ingin tahu seperti apa sarang itu dari dekat.. Sampai satu ketika seorang teman berteriak dengan senangnya karena ia melihat sarang burung yang menggantung rendah di ranting pohon, kira-kira hanya satu setengah meter saja..!!!

Kami bergegas memetik sarang yang didamba-dambakan itu. Tetapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sarang nan indah berisi petaka..!! sarang itu penuh dengan lebah yang menyerang kami semua, sehingga semua puntang-panting meninggalkan sarang yang mempesona itu.ihikhik

Sepulang dari tempat tadi, saya ceritakan pengalaman tadi kepada Almarhum kakek. Setelah mendengarkan cerita beliau, baru saya tahu ada pepatah yang mengatakan "Kalau tidak ada berada, tidak tempua bersarang rendah". Kakek berujar jangan sekali-kali dekati sarang tempua (manyar) yang rendah, karena kalau tidak berisi Lebah, mungkin ia berisi Ular..!!hahhahhah

Di sisi lain, ketika duduk di bangku SMP, saya baru memahami arti tersirat dari filsafat sarang burung tempua ini: "tentu ada sebab-sebab yang tersembunyi, maka terjadi sesuatu hal".

Jadi Brandanese, tentulah ada maksud-maksud tertentu jika orang melakukan hal-hal yang tak lazim dikerjakan.kenyitkenyitkenyit


Selanjutnya......